728x90 AdSpace

  • Latest News

    John Wick 2

    John Wick 2

    Spider-Man Home Coming

    Spider-Man Home Coming

    Captain America Civil War

    Captain America Civil War

    Fast & Furious 8

    Fast & Furious 8

    Paul Walker

    Paul Walker

    Cristiano Ronaldo

    Cristiano Ronaldo

    Steve Jobs

    Steve Jobs

    Nelson Mandela

    Nelson Mandela

    La La Land

    La La Land

    Wonder Woman

    Wonder Woman

    Pirates of the Caribbean 5

    Pirates of the Caribbean 5

    Elon Musk

    Elon Musk

    Robert Downey Jr.

    Robert Downey Jr.

    Rowan Atkinson

    Rowan Atkinson

    Logan

    Logan
    Wednesday, 5 October 2011

    Teori Belajar Behaviorisme dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran

    I. Pendahuluan
        Pada kesempatan kali ini syukur kepada Allah SWT pemakalah berkesempatan mengerjakan tugas makalah, dengan judul Teori Belajar Behaviorisme dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran. Pemakalah mengutip apa yang digoreskan Muh. Hizbul Muflihin di dalam KHAZANAH PENDIDIKAN : Jurnal Ilmiah Kependidikan, Vol. I, No.1 (Maret 2009) hal:  123 APLIKASI DAN IMPLIKASI TEORI BEHAVIORISME DALAM PEMBELAJARAN
        (Analisis Strategis Inovasi Pembelajaran). Learning and teaching are inseparable but not dentical. Learning is more descriptive, while teaching more prescriptive. From behavioristic point of view, a teacher should be able to create an atmosphere which enables students to build the expected competence. When this is achieved, it should be followed with reinforcement to make it part of students memory. Yang intinya, belajar dan pengajaran tidak dapat dipisahkan, namun keduanya tidak lah sama. Kalau belajar itu lebih deskriptif, sementara pengajaran lebih bersifat menentukan. Nah dengan teori Behavioristik bisa dilihat, seorang guru itu harus mampu menciptakan atmospir dimana dengannya dapat memungkinkan para murid membangun kecakapan yang diinginkan. Yang disertai dengan penguatan.
        Aliran behavioristik yang lebih bersifat elementaristik memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya. Pada dasarnya, manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol dengan jalan mengontrol stimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya (Mukminan, 1997: 7). Dengan demikian, dalam makalah simpel ini kita akan membahas teori behaviorisme ini beserta aplikasinya.
        Kritik dan saran sangatlah penulis nantikan. Dengan kerendahan hati kami ucapkan selamat membaca.
        Dalam makalah ini Penulis membahas :
    I. Pendahuluan
    II. Pembahasan
    A.    Teori behaviorisme
    B.    Aplikasi teori behaviorismAnalisis media
    III. Penutup


    II. Pembahasan
    A.    Pengertian Teori Behaviorisme
        Pandangan tentang belajar menurut alirang tingkah laku, tidak lain adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau dengan kata lain,  belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
        Berikut para ahli yang menggeluti aliran ini mereka adalah : Thordike (1911), Watson (1963), Hull (1943), dan Skinner (1968). 
    B.    Aplikasi Teori Behaviorisme
        Aplikasi teori behaviorisme Prinsip Umum Aplikasi Teori Behavirostik  Dalam pembelajaran
        Teori behaviorisme yang menekankan adanya hubungan antara stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar. Caranya, guru banyak memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan cara ini siswa akan merespons secara positif. Apalagi jika diikuti dengan adanya reward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan terhadap respons yang telah ditunjukkan). Oleh karena teori ini berawal dari adanya percobaan sang tokoh behavioristik terhadap binatang, maka dalam konteks pembelajaran ada beberapa prinsip umum yang harus diperhatikan. Menurut Mukinan (1997: 23), beberapa prinsip tersebut
    adalah:
    1)    Teori ini beranggapan bahwa yang dinamakan belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukkan perubahan tingkah laku tertentu.
    2)    Teori ini beranggapan bahwa yang terpenting dalam belajar adalah adanya stimulus dan respons.
    3)    Reinforcement, yakni apa saja yang dapat menguatkan timbulnya respons, merupakan faktor penting dalam belajar. Respons akan semakin kuat apabila reinforcement (baik positif maupun negatif) ditambah.

        Jika yang menjadi titik tekan dalam proses terjadinya belajar pada diri siswa adalah timbulnya hubungan antara stimulus dengan respons, di mana hal ini berkaitan dengan tingkah laku apa yang ditunjukkan oleh siswa, maka penting kiranya untuk memperhatikan hal-hal lainnya di bawah ini, agar guru dapat mendeteksi atau menyimpulkan bahwa proses pembelajaran itu telah berhasil. Hal yang dimaksud adalah sebagai berikut :
    1)    Guru hendaknya paham tentang jenis stimulus apa yang tepat untuk diberikan kepada siswa.
    2)    Guru juga mengerti tentang jenis respons apa yang akan muncul pada diri siswa.
    3)    Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukkan siswa ini benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan, maka guru harus mampu :
    a)    Menetapkan bahwa respons itu dapat diamati (obserbable)
    b)    Respons yang ditunjukkan oleh siswa dapat pula diukur (measurable)
    c)    Respons yang diperlihatkan siswa hendaknya dapat dinyatakan secara eksplisit atau jelas kebermaknaannya (eksplisit)
    d)    Agar respons itu dapat senantiasa terus terjadi atau setia dalam ingatan/tingkah laku siswa, maka diperlukan sekali adanya semacam hadiah (reward).
        Aplikasi teori behavioristik dalam proses pembelajaran untuk memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran (siswa menunjukkan tingkah laku / kompetensi sebagaimana telah dirumuskan), guru perlu menyiapkan dua hal, sebagai berikut :
    1)    Menganalisis Kemampuan Awal dan Karakteristik Siswa Siswa sebagai subjek yang akan diharapkan mampu memiliki sejumlah kompetensi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, perlu kiranya dianalisis kemampuan awal dan karakteristiknya. Hal ini dilakukan mengingat siswa yang belajar di sekolah tidak datang tanpa berbekal apapun sama sekali (mereka sangat
    mungkin telah memiliki sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang di dapat di luar proses pembelajaran). Selain itu, setiap siswa juga memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam hal mengakses dan atau merespons sejumlah materi dalam pembelajaran. Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh guru jika melakasanakan analisis terhadap kemampuan dan karakteristik siswa, yaitu :
    a)    Akan memperoleh gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang berfungsi sebagai prasyarat (prerequisite) bagi bahan baru yang akan disampaikan.
    b)    Akan memperoleh gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan berdasar pengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih relevan dan memberi contoh serta ilustrasi yang tidak asing bagi siswa.
    c)    Akan dapat mengetahui latar belakang sosio-kultural para siswa, termasuk latar belakang keluarga, latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.
    d)    Akan dapat mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmaniah maupun rohaniah.
    e)    Akan dapat mengetahui aspirasi dan kebutuhan para siswa.
    f)    Dapat mengetahui tingkat penguasaan bahasa siswa.
    g)    Dapat mengetahui tingkat penguasaan pengetahuan yang telah
    diperoleh siswa sebelumnya.
    h)    Dapat mengetahui sikap dan nilai yang menjiwai pribadi para siswa
    (Oemar Hamalik, 2002 : 38 -40)
          2) Merencanakan materi pembelajaran yang akan dibelajarkan Idealnya proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh siswa dan juga sesuai dengan kondisi siswa, sehingga di sini guru tidak akan over-estimate dan atau under-estimate terhadap siswa. Namun kenyataan tidak demikian adanya.
    Sebagian siswa ada yang sudah tahu dan sebagian yang lain belum tahu sama sekali tentang materi yang akan dibelajarkan di dalam kelas. Untuk dapat memberi layanan pembelajaran kepada semua kelompok siswa yang mendekati idealnya (sesuai dengan kemampuan awal dan karakteristik masing-masing kelompok) kita dapat menggunakan dua pendekatan yaitu
    a)    Siswa menyesuaikan diri dengan materi yang akan dibelajarkan, yaitu dengan cara                guru melakukan tes dan pengelompokkan (dalam hal ini tes dilakukan sebelum siswa mengikuti pelajaran), atau
        b). materi  pembelajaran disesuaikan dengan keadaan siswa (Atwi Suparman, 1997 :
                    108). Materi pembelajaran yang akan dibelajarkan, apakah disesuaikan dengan
                       keadaan siswa atau siswa menyesuaikan materi, keduanya dapat didahului dengan   mengadakan tes awal atau tes prasyarat (prerequisite test). Hasil dari prerequisite  test ini dapat menghasilkan dua keputusan, yaitu : siswa dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yakni
         a) sudah cukup paham dan mengerti, serta
    b) belum paham dan mengerti. Jika keputusan yang diambil siswa dikelompokkan     menjadi dua di atas, maka konsekuensinya: materi, guru dan ruang belajar harus dipisah.

        Hal seperti ini tampaknya sangat susah untuk diterapkan, karena berimplikasi pada penyediaan perangkat pembelajaran yang lebih memadai, di samping memerlukan dana (budget) yang lebih besar. Cara lain yang dapat dilakukan adalah, atas dasar hasil analisis kemampuan awal siswa dimaksud, guru dapat menganalisis tingkat persentase penguasaan materi pembelajaran. Hasil yang mungkin diketahui adalah bahwa pada pokok materi pembelajaran tertentu sebagian besar siswa sudah banyak yang paham dan mengerti, dan pada sebagian pokok materi pembalajaran yang lain sebagian besar siswa belum atau tidak mengerti dan paham.
        Rencana strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru terhadap kondisi materi pembelajaran yang sebagian besar siswa sudah mengetahuinya, materi ini bisa dilakukan pembelajaran dalam bentuk ko-kurikuler (siswa diminta untuk menelaah dan membahas di rumah atau dalam kelompok belajar, lalu diminta melaporkan hasil diskusi kelompok dimaksud). Sedangkan terhadap sebagian besar pokok materi pembelajaran yang tidak dan belum diketahui oleh siswa, pada pokok materi inilah yang akan dibelajarkan secara penuh di dalam kelas.
        Sedangkan langkah umum yang dapat dilakukan guru dalam menerapkan teori behaviorisme dalam proses pembelajaran adalah :
    1)    Mengidentifikasi tujuan pembelajaran.
    2)    Melakukan analisis pembelajaran
    3)    Mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal pembelajar
    4)    Menentukan indikator-indikator keberhasilan belajar.
    5)    Mengembangkan bahan ajar (pokok bahasan, topik, dll)
    6)    Mengembangkan strategi pembelajaran (kegiatan, metode, media dan
        waktu)
    7)    Mengamati stimulus yang mungkin dapat diberikan (latihan, tugas, tes dan
        sejenisnya)
    8)    Mengamati dan menganalisis respons pembelajar
    9)    Memberikan penguatan (reinfrocement) baik posistif maupun negatif, serta
    10)    Merevisi kegiatan pembelajaran (Mukminan, 1997: 27).



    III. kesimpulan
        Telah kita ketahui, bahwa inti dari aplikasi teori behaviorisme, guru berperan penuh, sedangkan murid bersikap pasif. Oleh sebab saat sekarang ini para murid lebih condong berguru pada media seperti contoh internet, dalam menggapai informasi. Apabila sang guru tidak mampu mengkondisikan murid, dalam artian tidak memperhatikan aplikasi dari teori ini dengan baik, maka benarlah sebagaimana yang diungkapkan oleh Ma’ruf Zariq :           
    كانت التربيّة القديمة تعتقد ان الطفل (التلميذ) صفحة بيضاء ينقش عليها المربّي مايريده, أو أنّه قطعة عجين ليّنة نضعها في القالب الذي نريد.
     تنقل التربية الحديثة العبء كلّه من المعلّم الى التلميذ ليصبح محور النشاط, وهو القطب الإيجابي في العملية التعلمية, والمعلّم هو القطب السلبي
        Imbas dari keadaan siswa yang demikian, menandakan guru dalam situasi ini pasif. Dan hal ini jelas bertentangan dengan ciri khas teori behaviorisme dalam memaknai siswanya.
        Perlu diperhatikan, dalam prakteknya seorang guru harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang paling tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru-guru itu sendiri. Dengan aplikasi teori behaviorisme ini, hal di atas terjawab. Guru menurut behaviorisme, dituntut dapat mengerti kondisi siswa sebelum menghadapi pembelajaran, sifat materi apa yang layak bagi siswa yang demikian adanya, demikian, teori ini juga terkait dengan media. Serta, kondisi para guru, sudah barang tentu, dari segi kualitas mereka tidak diragukan lagi, menurut teori behaviorisme sebagai mana yang telah kita bahas.
    Daftar Pustaka
    B. Uno, M.Pd Dr. Hamzah, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajar, Jakarta : PT Bumi Aksara. Nov 2006.

    Muflihin Muh. Hizbul, Jurnal Ilmiah Kependidikan, Vol. I, No.1 (Maret 2009) hal : 123. APLIKASI DAN     IMPLIKASI TEORI BEHAVIORISMEDALAM PEMBELAJARAN (Analisis Strategis Inovasi     Pembelajaran) http://jurnal.ump.ac.id/_berkas/jurnal/11.pdf

    معروف زريق, كيف نربّي أبنائنا, دارالفك
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Teori Belajar Behaviorisme dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran Rating: 5 Reviewed By: Motivator Indonesia
    Scroll to Top