728x90 AdSpace

  • Latest News

    Monday, 10 October 2011

    hikmah Puasa

    HIKMAH PUASA
    DR.KH.A.Hasyim Muzadi
     Puasa merupakan ibadah yang kuno, karena termasuk ibadah yang disyari'atkan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW. Ada yang mengatakan mulai dari Nabi Ibrahim AS, dan ada yang berpendapat mulai dari Nabi Adam AS. Oleh karena itu di dalam Surat Al-Baqarah : 183 disebutkan:
                  
    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa
        Puasa berbeda dengan shalat. Shalat lima waktu dengan jumlah roka'at yang seperti itu, justru disyari'atkan setelah peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya, shalat itu berupa dzikir dan tahannuts (menyendiri dan dzikir kepada Allah SWT). Gaya shalat seperti yang kita pakai sekarang adalah semenjak peristiwa Isra' Mi'raj. Ketika Nabi Muhammad SAW bertahannuts (menyendiri & merenung) di Gua Hira, beliau juga melakukan shalat, akan tetapi modelnya tidak seperti sekarang ini.
        Semenjak dulu Allah SWT memerintahkan orang berpuasa. Artinya: Puasa itu merupakan kebutuhan manusia. Dan bentuknya sama seperti sekarang ini. Jadi, seluruh aspek kehidupan kita ini memerlukan puasa. Mari kita urut:
    1.    Fisik Dan Badan Kita Memerlukan Puasa Sebagai Stabilisator
        Saya bukan dokter, mungkin kamu semua juga bukan dokter. Akan tetapi kita gampang melihat manfaat puasa. Misalnya; Kenapa orang yang akan diambil darahnya harus puasa dulu (bisa 9 jam atau 10 jam). Artinya; Dalam keadaan puasa, posisi darah itu menjadi stabil – tidak naik turun – sehingga bisa diukur. Akan tetapi kalau mengukur darah setelah seseorang makan sate, kira-kira darahnya itu akeh sundu'e, apalagi kalau satenya ora mbayar (gratis). Kalau santri ditanya, lauk apa yang paling nikmat? Jawabannya pasti; "Lauk yang tidak bayar (gratis). Contoh sederhana ini bisa dimengerti oleh orang awam.
        Bagi orang yang mengerti betul tentang kesehatan, misalnya; dokter, maka dia akan mengerti betul kegunaan puasa itu. Pada umumnya, para dokter mengatakan; Semestinya puasa itu 1/8 tahun, jika seseorang mau sehat betul. Maka sangat masuk akal kalau kemudian disyari'atkan puasa-puasa sunnah untuk memberi ruang bagi puasa wajib (puasa Ramadhan) yang asalnya 1/12 tahun, meskipun sebenarnya menurut saya hanya 1/24 tahun, karena malamnya kita masih diperbolehkan untuk makan. Puasa yang bagus itu adalah 1/8 tahun, bukan 1/24 tahun. Oleh karena itu, puasa senin-kamis dan puasa sunnah lainnya juga berfungsi untuk membangun manusia secara fisik.


    2.    Pikiran Kita Memerlukan Puasa
        Maksudnya; Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, yaitu pikiran kita perlu istirahat dengan berpuasa. Jadi pikiran kita tidak boleh mengalami ketegangan yang melebihi 6 jam. Rasulullah SAW mengisyaratkan kalau kamu dalam keadaan gelisah atau tegang, maka berwudhu'-lah. Kalau masih tetap gelisah, maka shalatlah dua roka'at, dan kalau masih ada juga, maka berpuasalah. Puasa merupakan junnah (benteng/temeng). Jadi obat stress atau ketegangan pikiran adalah puasa. Pikiran memerlukan puasa untuk beberapa hal di bawah ini:
        Untuk istirahat
        Untuk mengendorkan ketegangan
        Untuk mengontrol kemauan pikiran.
        Fungsi ketiga ini yang paling hebat. Apa jaminannya kalau orang pinter tidak merusak dengan kepintarannya. Contoh: Banyak sarjana hukum yang masuk hukuman.
        Di Cengkareng saya salaman sama Rusdi (Kepala Kejaksaan Tinggi Jakarta) yang baru dipecat. Biasanya orang yang baru dipecat itu baik hati sama Kyai, tapi kalau sedang menjabat, mesetake luar biasa. Rusdi bercerita, kenapa dia dipecat?. Dia marah begitu rupa karena menurut dia, di Indonesia ini hukum sudah tidak ada. Saya bertanya: "Kenapa Bapak dipecat?". Dia menjawab: "Saya dipecat karena dicurigai memberi tuntutan yang terlalu ringan terhadap kesalahan yang besar". Saya bertanya lagi: "Apakah perbuatan itu salah atau tidak?". Dia menjawab: "Ya salah, Kyai". Saya berkomentar: "Kalau begitu Anda dipecat kan sudah benar". Dia berkomentar lagi: "Tapi yang memecat saya itu lebih dahsyat jahatnya dari pada saya". Saya jawab: "Kalau begitu, tunggu gilirannya dia dipecat oleh Allah SWT". Rusdi bertanya: "Gimana ini Kyai, saya pening dan malu. Anak-anak saya menjadi korban di sekolah-sekolah karena dituduh anak koruptor". Lalu saya provokasi dia: "Saya sendiri juga heran Pak Rusdi, Bapak kan pekerjaannya jaksa yang biasanya menuntut orang, sekarang kok dituntut". "Kalau Bapak percaya kepada saya, Bapak puasa sajalah".
        Setelah itu saya bercerita bahwa puasa itu bisa mengendalikan pikiran orang. Jadi pikiran ini mempunyai muatan (content). Pinter, ahli hukum, ahli ekonomi, dsb. adalah content (isi) pikiran. Akan tetapi content ini nanti akan kita gerakkan ke arah yang baik atau ke arah yang buruk, kan tidak tergantung pada content itu sendiri, melainkan tergantung kepada nafsu dan gerakan pikiran. Nah, puasa itu berfungsi pada mekanisme pikiran, bukan pada contentnya. Jadi, jangan merasa kalau orang yang berpuasa itu bisa langsung pinter. Kalau demikian adanya, maka tutup saja sekolah-sekolah, cukup berpuasa saja. Puasa itu berfungsi mengendalikan ilmu (content) dan kemauan seseorang.
        Setelah mendengarkan penjelasan saya, Rusdi manthuk-manthuk dan berkata: "Saya baru dengar tentang hal ini, Kyai". Saya menjawab: "Lha kamu memang baru ngaji sekarang kok. Mestinya kamu bayar dong sama saya, apalagi Bapak minta foto sama saya lagi". "Pak Rusdi, di Arofah itu kalau Bapak ingin berfoto dengan unta, maka harus bayar 5 Riyal, kalau sekarang sampeyan minta foto dengan saya, berani bayar berapa, masak cuma 6 Riyal, kalau begitu, berarti saya cuma 1 Riyal di atas unta dong". "Sudahlah, Bapak berpuasa saja, karena tidak ada yang bisa mengobati. Siapa yang mau mengobati Bapak?. Ada orang yang mau memberi tahu Bapak, Bapak adalah tukang memberi tahu orang. Ada orang berpangkat ingin memberi tahu Bapak, Bapak sendiri adalah orang yang berpangkat. Dan tidak ada orang yang mau memarahi Bapak, karena Bapak biasa marah-marah dalam posisi sebagai Jaksa".
        Setelah itu saya disangoni, tapi jumlahnya rahasia. Saya tidak tahu apakah uang ini halal atau haram, namun uang ini saya gunakan untuk membeli beras untuk kamu semua. Kalau uang itu haram, biar haram bersama-sama. Jadi saya memakai money loundry melalui sedekah.
        Rusdi juga bertanya kepada saya: "Pak Hasyim dari mana?". Saya jawab: "Saya dari New York". Dia bertanya: "Dengan siapa?". Saya jawab: "Dengan ibu". Dia bertanya lagi: "Apa Pak Hasyim naik yang kelas ekonomi dari New York, kenapa kok nggak yang first class?" Saya jawab: "Kenapa kok harus first class?. Sebenarnya begini. Kalau saya mau pergi ke Luar Negeri, pasti saya diberi VIP. Akan tetapi karena Ibunya anak-anak ini ingin ikut, karena kepingin tahu Amerika, maka saya harus naik yang kelas ekonomi. Gayanya orang perempuan kan begitu. Dia ingin pergi ke Amerika lalu cerita di kampung-kampung. Saya tidak mempunyai uang untuk biaya transportasi first class karena harganya mahal, dari Jakarta ke Bangkok, terus ke New York. Ongkos PP-nya adalah $ 4800 untuk kelas ekonomi, sedangkan kalau kelas VIP seharga $ 8900. Saya mendapat kelas VIP, lalu saya tukar dengan kelas ekonomi, untuk dua tiket bersama Ibu. Ndak ada ceritanya pejabat Indonesia mau bersikap seperti itu. Akhirnya saya jadi melorot ke ekonomy class". Si Rusdi heran mendengarkan cerita saya. Selanjutnya saya berkata: "Solusi untuk Bapak cuma satu, yaitu puasa. Puasa akan menjadi nasehat sekaligus obat".
        Sama halnya dengan kamu semua. Ketika mengalami ketegangan pikiran, maka berpuasalah, atau ketika kamu menghadapi sesuatu yang kelihatannya buntu, maka tembuslah dengan puasa. Jadi kesimpulannya, otak kita memerlukan puasa.

    3.    Nafsu Kita Memerluan Puasa
        Nafsu merupakan power motorik dalam diri manusia. Orang yang tidak mempunyai nafsu, dia akan nggelembosi. Orang yang tidak mempunyai nafsu berarti dia tidak mempunyai kemauan, spirit, cita-cita, bahkan ide. Oleh karena itu, nafsu harus ada pada diri manusia. Masalahnya sekarang, Bagaimana quantum nafsunya?, dan Bagaimana mekanisme gerakan nafsu?, Hal ini penting diketahui karena nafsu akan menggerakkan otak kita.
        Nafsu itu mempunyai 3 dimensi:
        Nafsu perut. Misalnya; nafsu makan dan minum. Kalau dibesarkan lagi, nafsu perut ini berujung pada nafsu kekayaan. Dorongan nafsu ini sangat kuat pada diri seseorang.
        Nafsu sex. Istilahnya dalam kitab: نَفْسُ اْلبَطْنِ وَمَا تَحْتَ الْبَطْنِ (nafsu perut dan nafsu di bawah perut). Nafsu sex ini kekuatannya juga luar biasa.
       

        Masing-masing dari nafsu perut dan nafsu sex ini kadang-kadang bergerak sendiri, kadang bergerak kolaboratif (bersama-sama). Ada orang mengalami nafsu perut, lalu dia pergi untuk mencari makan. Berarti dia cuma mencari kebutuhan isi perut. Akan tetapi ada orang yang mencari makan sekaligus mencari kemewahan dan gengsi. Berarti di sini ada spektrum.
         Masya Allah, saya kemarin gethon (menyesal) bukan main. Saya di New York tinggal di hotel. Ketika baju saya kotor, saya ingin baju itu dicuci karena pada sore harinya mau saya pakai ke PBB. Saya kan mesti memakai pakaian yang rapi dan memakai dasi, ndak jelek seperti ini. Kalau saya pakai dasi, kamu mesti pangling. Lalu baju itu saya loundry. Di sini biaya loundry biasanya paling cuma Rp. 50.000-60.000. Baju itu saya loundry biar ndak lungset. Masak saya menemui Sekjend PBB dengan baju yang lungset, kok kelihatan Al-Hikamnya. Saya bertanya kepada petugas Loundry: "Berapa lama waktu loundry-nya?;" Dia bilang cuma 35 menit. Setelah saya sambil, ternyata ongkos loundry satu baju itu adalah $ 55 (Rp. 450.000). Uang sebesar ini kalau dibuat untuk indekost di Al-Hikam sudah berapa bulan. Artinya; Dalam hal ini, orang membeli gengsi bukan membeli cucian.
        Di Inggris ada toko milik orang Arab yang dulu pernah mempersunting Lady Diana. Di toko itu ada sepatu yang harganya $ 80.000. Jadi kalau nafsu harta sudah naik, maka nafsu itu harus dikendalikan dengan puasa. Puasa membuat orang kembali menjadi sederhana. Sekarang kamu merasa lapar banget, seakan-akan kalau dikasih 5 piring, semuanya akan dihabisin. Padahal kalau sudah waktunya makan, paling-paling kamu cuma makan 3 piring. Artinya; Kemauan (nafsu) itu tidak seimbang dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, di sini diperlukan adanya normalisasi, yaitu melalui puasa, karena jika seseorang tidak makan dan tidak minum, tentu nafsu seksnya akan turun. Kalau ada orang ndak makan maupun minum, akan tetapi nafsu sexnya tidak turun, berarti ada yang tidak beres ("pasti" ada extra joss-nya). Dalam kondisi normal, nafsu sex orang yang tidak makan maupun minum, pasti akan turun. Namun nafsu sex itu kalau malam boleh dipakai, artinya; nafsu sex itu dikendalikan, bukan dihentikan. Oleh karena itu, mengebiri (nafsu sex) itu hukumnya haram, sedangkan yang wajib adalah mengendalikan nafsu sex. Jadi, nafsu sex itu tidak boleh dihilangkan sebagaimana yang dilakukan oleh para Pastor.
        Nafsu Memperoleh Jabatan (حُبُّ الْجَاهِ)
        Yaitu suatu ambisi yang berlebihan. Ambisi itu harus ada, namun yang tidak boleh adalah ambisi yang berlebih-lebihan. Semua hal itu harus sesuai dengan mizan (ukuran). Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Rohman:
    وَوَضَعَ الْمِيْزَانَ
    Dan Dia (Allah SWT) meletakkan ukuran
        Oleh karena itu, semua hal harus memakai dosis (ukuran). Dinginnya es itu menyegarkan, akan tetapi jika dinginnya 50 derajat di bawah nol, yo bongko dadak awak-awak an iki. Kata para teroris kapal terbang: "Sekarang tidak perlu meledakkan kapal terbang, cukup dilobangi saja kapalnya, para penumpangnya sudah mati semua". Karena temperatur di luar kapal bisa mencapai 57 derajat di bawah nol. Atau jika kaca pesawat terbang itu dipecah satu saja, niscaya semua penumpang akan mati membeku.
    4.    Jiwa Memerlukan Puasa
        Jiwa adalah spiritual dan bagian dari ruh. Apakah kamu pernah mendengar ada orang menjadi kebal dari senjata tajam karena puasa?. Misalnya; Dia diberi gembelengan, disuruh membaca suatu do'a dan berpuasa 3 hari, selanjutnya dia tidak mempan senjata tajam. Perhatikaan!. Apa hubungannya puasa dengan tidak mempan senjata tajam. Mestinya yang tidak mempan kan yang banyak makan, karena dia banyak gizinya. Dikurangi jatah makannya kok justru tidak mempan, gimana logikanya. Berarti di sini ada pengaruh puasa.
        Semua itu tergantung dengan niatnya. Niat adalah pekerjaan ruh. Maka hati-hatilah dengan niat. Saya sudah berpesan berkali-kali sampai bosan, Apa niat kamu mondok di Al-Hikam ini?. Apakah kamu mondok di sini karena kesulitan indekost di luar?, Apakah mondok di sini biar tidak dimarahi orang tua? atau Apakah kamu mondok di sini karena ingin meluruskan ilmu dan hidupmu?. Pegang dulu niat kamu. Kalau niat ini tidak kena, semuanya tidak kena. Hampir semua keponakan saya dikeluarkan dari Pondok ini, baik anaknya saudara saya maupun anaknya saudara ibu. Mereka memang saya keluarkan, karena saya tidak menginginkan apa-apa dari Al-Hikam ini, kecuali kamu menjadi lebih baik.
        Sehingga dengan demikian, puasa itu inhern – sudah menjadi satu - dengan kebutuhan manusia. Kalau kamu ingin mulya hidupmu, maka berpuasalah. Mulya itu berbeda dengan pangkat. Ada pinter, pangkat dan mulya. Kalau pinter itu berarti muatan ilmunya banyak. Kalau pangkat itu kamu dapat status. Kadang orang berilmu mendapat status, kadang tidak. Kadang orang bodoh karena ada koneksi bisa mempunyai status, akan tetapi yang paling banyak adalah goblok dan tidak punya status. Sedangkan Mulya berarti maqaman mahmudah (posisi yang terhormat) di hadapan manusia dan Allah SWT.
        Tawassul itu dua macam, yaitu: Ikramul wa lidain (berbakti kepada kedua orang tua) dan puasa. Oleh karena itu, saya anjurkan, sekalipun orang tua kamu masih hidup dan tempatnya jauh, sering-seringlah kamu membaca Surat Al-Fatihah untuk beliau. Caranya: Setiap kamu akan melakukan sesuatu yang penting atau sesuatu yang kamu anggap penting, maka bacalah Surat Al-Fatihah kepada Rasulullah SAW, lalu kepada ayah kamu sebanyak satu kali, serta kepada ibu sebanyak 3 kali. Kenapa harus 3 kali?, karena ibu itu tiga kali lebih berat ngurusi kamu dibandingkan ayahmu. Untung kamu ini menjadi anak laki-laki. Seandainya kamu menjadi perempuan, kamu akan disuruh nyewo'i anak sampe' mbelenger. Istri saya itu kalau mengandung harus masuk rumah sakit, karena tidak doyan apapun dan tidak bisa makan maupun minum bahkan harus diinfus selama 3 bulan. Tugas ibu meliputi; mengandung, melahirkan dan mendidik anak. Namun ternyata semua itu masih rutin dilakukan oleh seorang ibu. Jadi ndak cocok antarane abote ambek rutine. Beratnya mengandung anak ini juga diakui oleh Al-Qur'an melalui firman-Nya: وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ (berat di atas berat).
       
        Kamu harus membaca Al-Fatihah sebagaimana ketentuan di atas ketika mau berangkat ke sekolah, mau mendengarkan kuliah, mau menghadapi ujian, mau mengambil suatu keputusan, dsb. Biasakan dan Istiqamah-kan membaca Surat Al-Fatihah tadi, Insya Allah nasibmu tidak akan ketelesot. Jangan dikira orang yang pinter itu tidak ada yang tidak ketelesot, justru banyak di antara mereka yang ketelesot. Jikalau orang tuamu sudah wafat, maka sering-seringlah ziarah ke kuburan mereka. Ayah dan ibu saya itu dimakamkan di Tuban. Setiap kali saya pergi ke Tuban, betapapun sulitnya, saya pasti datang mampir ziarah ke makam beliau berdua.
        Selanjutnya ditambah dengan tawassul yang kedua, yaitu puasa. Kalau puasa wajib, tentulah harus dikerjakan. Sedangkan puasa yang tidak wajib, hendaknya kamu mengerjakan-nya kalau sempat dan kalau sumpek. Insya Allah, nanti nanti kamu akan diberi kelonggaran. Pernah diceritakan oleh Umar RA: Puasa itu ibarat sinar yang menembus baja yang setebal apapaun. Jadi tidak ada keruwetan yang tidak bisa diatasi oleh puasa. Hanya dosisnya harus disesuaikan. Semakin berat masalah, maka puasanya juga harus semakin banyak.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: hikmah Puasa Rating: 5 Reviewed By: Motivator Indonesia
    Scroll to Top