728x90 AdSpace

  • Latest News

    John Wick 2

    John Wick 2

    Spider-Man Home Coming

    Spider-Man Home Coming

    Captain America Civil War

    Captain America Civil War

    Fast & Furious 8

    Fast & Furious 8

    Paul Walker

    Paul Walker

    Cristiano Ronaldo

    Cristiano Ronaldo

    Steve Jobs

    Steve Jobs

    Nelson Mandela

    Nelson Mandela

    La La Land

    La La Land

    Wonder Woman

    Wonder Woman

    Pirates of the Caribbean 5

    Pirates of the Caribbean 5

    Elon Musk

    Elon Musk

    Robert Downey Jr.

    Robert Downey Jr.

    Rowan Atkinson

    Rowan Atkinson

    Logan

    Logan
    Monday, 10 October 2011

    Etika Ilmu

    Anak-anak yang saya hormati, utamanya kepada anak-anak yang baru. Saya ingin menyampaikan sebagai dasar pengetahuan kamu semua tentang etika ilmu pengetahuan. Bukan filsafat ilmu. Ada dua istilah, etika atau moral ilmu pengetahuan itu adalah dasar moral untuk memberi makna kepada ilmu pengetahuan; kalau filsafat ilmu, itu induk dari ilmu pengetahuan. Jadi, beda. Kalau filsafat ilmu built in (menyatu dengan ilmu); kalau etika atau moral keilmuan, itu sesuatu yang beda. Al-‘Ilmu Syai’un, wa adabul ‘ilmi syaiun akhar. Ilmu pengetahguan adalah sesuatu; etika dan moralnya adalah sesuatu yang lain. Klau filsafat ilmu, kita bisa mengetahui induk dari ilmu pengetahuan, tapi moral keilmuan adalah suatu suasana kejiwaan di dalam menggunakan ilmu itu. Jadi, suasana kejiwaan. Setuap pesantren termasuk Al-Hikam, selalu mendengung-ndengungkan agar kamu semua menjadi dan mempunyai ilmu yang manfaat ; selalu. Setiap kyai, setiap ulama’, do’anya adalah agar kamu mendapat ilmu yang manfaat. Ini penting untuk anak-anak baru. Ilmu itu di dalam kenyataannya, dibagi menjadi 3 jenis. Ada ilmu yang manfaat; ilmu mubadzir; dan ilmu yang berbahaya. Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang menyatu dengan moral keilmuan itu tadi. Moral keilmuan itu adalah hidayah Allah SWT, nah hidayah Allah itu datang melalui khasyyatullah. Khasyyatullah adalah rasa takut kepada Allah SWT untuk tidak melakukan ajaran-Nya. Orang yang mempunyai rasa takut kepada Allah, dia dekat dengan hidayah Allah. Maka ketika hidayah menyatu dengan ilmu, maka ilmumu menjadi ilmu yang manfaat. Andaikan kamu sekolah hukum, kamu akan menjadi ilmuwaan yang menegakkan keadilan hukum. Andaikan kamu ahli fiqih, tidak akan menggunakan hukum fiqih itu untuk tujuan yang tidak sah menurut moral keilmuanmu. Andaikan kamu menjadi ahli ekonomi, maka ilmunya akan bermanfaat bagi dirimu di bidang ekonomi dan akan memberikan manfaat kesejahteraan kepada sesama. Itu pertanda kalau ilmumu bermanfaat. Itu indikator kalau ilmumu manfaat. Nah, guna mencapai moral keilmuan tadi, diperlukan beberapa amaliah, amaliah yang eprtama, memeprkuat tauhid kepada Allah SWT. Mengesakan Allah. Wala tusyrik bi ‘ibadati rabbihi ahada. Jangan sampai menjadi musyrik. Jangan sampai ada tuhan lain selain Allah. Maka wiridannya laa ilaaha illallah. Ai la ma’buda illallah. Tidak ada yang boleh dan patut diasembah, kecuali Allah. Tetapi tauhid itu tidak berdiri sendiri, tauhid baru akan subur ketika kamu melakukan ibadah, maka jangan memisahkan tauhid dengan ibadah. Orang yakin kepada Allah tapi tidak shalay, makla keyakinan itu akan kering. Nabi SAW bersabda:
    Alimanu yazdadu wa ya
    Iman bisa berkembang dan menyusut
    Tergantung, bersanding dengan ibadah atau tidak. Ketika menyatu dengan iabdah, maka iman akans emakin kuat. Ketika pisah dengan ibadah, iman akan melemah. Ketika iman bersatu dengan kebenaran, maka akan menguat; ketika menyatu dengan maksiat, maka akan melemah. Sekali lagi, faktor kedua setelah tauhid adalah ibadah. Ibadah kamu ini adalah ibadah wajib, sekaligus harus dikembangka dalam ibadah sunnah. Ibadha wajib itu basic need. Paling tidak harus begitu. Kurang dari itu sudah berdosa. Kurang dari 5 kali shalat sehari, berdosa. Orang yang shalat 5 kali, pas dengan kebutuhan. Oleh karenanya disebut wajib. Kalau ingin pengembangan rohani, ditambah dengan kesunahan. Amal kesunahan bukan tidak perlu, tidak wajib ya, tapi perlu, untuk pengembangan. Shalat qabliyah, ba’diyah, shalat malam, lakukan itu. Lalu terusnya baca Al-Qur’an. Kamu setiap ahri, jangan sampai ada hari tanpa Qur’an. Saya ingatkan pada anak-anak semua. Yang pesma, sebisanya. Fatihah kan Qur’an. Ya itu saja, sak isone. Yang ma’had aly, sudah bisa baca kitab, kadang karena sudah bisa, Al-Qur’an dianggap lewat, jadi nggak mau baca Al-Qur’an; jadi ada gejala sa’amah, kebosanana terhadap kebiasaannya. Anak dari pondok salah yang ngelutuk, taat, ndak pernah liuhat abang ijo. Budal nang malang, koyo jaran ucul. Ndeluk bioskop terus. Ndeluk TV terus ngantek beleken. Bosan dengan kebaikan, ingin kerusakan. Gejala ini bisa nampak di Universitas Islam; karena dia sudah lama di Aliyah, di Pesantren, rumongso sudah cukup shalih, barang masuk universitas, reno-reno, pikirannya diumbar, tingkah lakunya diumbar; maka gerakan liberal Islam, justru subur di universitas Islam, misalnya: UIN. Di universitas umum, karena SD, SMP, SMA, sudah bosan modern, dia kepingin shalih; nah, ini kalau ketangkap orng yang agamnya keras, langsung jadi fundamentalis; karena ada sikap over-kompensasi pada dirinya. Kompensasi itu kebalikan, ini melebihi dosis yang diperlukan. Jadi, kalau saya ditanya oleh peneliti-peneliti, kenapa kelompok Islam garis keras marak di universits umum, sedangkan liberal kok tumbuh di universitas agama. Saya jawab, karena yang di universitas agama, bosan shalih ingin rusak; yang di universitas umum, bosan rusak ingin shalih. Di sini ada sa’amah. Untuk menghalangi sa’amah ini, maka amalan sunnah disambung baca Qur’an dan dzikir, dia akan menghalangi sa’amah. Dzikir itu kamu harus belajar dari nol sampai pada KM yang paling jauh. Pertama, baca aja dulu; kedua, upayakan mengerti ucapan astaghfirullah itu apa, subhanallah itu apa, dsb. Kalau sudah mengerti, coba dihayati; proses yang kedua, penghayatan itu di dalam bahasa Artab namanya tarassukh, di dalam ilmu psikologi namanya internalisasi. Bagaimana mengubah pengertian menjadi rasa, bahwa menyakiti orang itu tidak baik, itu ngerti; tapi bagaimana kita memasukkan pengertian menjadi rsa, sehingga perasaan kita sudah tidak ingin menyakiti orang lain, itu sesuatu yang lain, tahapans elanjutnya. Itu bisa melalui dzikir yang dimengerti maknanya. Ndak ngerti makna pun, lebih baik daripada tidak dzikir. Tenger-tenger wae, koyo wong ditagih utang ora iso mbayar. Nah, kalau sudah ada internalisasi, pelan-pelana akan membentuk rasa, rasa akan membentuk karsa (action). Action sudah mejadi gerakan (movement), ketika sudah menjadi gerakan yang permanen, maka menjadi akhlaq. Maka akhlaqnya dia laa ilaha illahha, subhanallah, dan sebagainya. Akhlaqnya adalah apa yang dia baca di Al-Qur’an. Ketika karakter ini terbentuk, ini kondusif untuk menggaet atau mengolah ilmu informatoris menjadi ilmu yang manfaat. Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang sampai pada tujuan essensinya. Bukan gelarnya. Sampai kepada essensinya, sampai keadilan; ekonomi sampai kesejahteraan; psikologi sampai pada ketenangan. Maka jangan meremehkan moral ilmu pengetahuan. Moral ilmu pengetahuan itulah yang berfungsi menciptakan ilmu menjadi manfaat. Ketika ilmu berdiri sendiri, tidak bersentuhan dengan etika keilmuan, dia menjadi mubadzir. Tahu, tapi untuk tahu-tahuan aja. Banyak anak pertanian masuk perbankan, karena pekerjaan hanya itu; akhirnya dia harus kursus perbankan, sedangkan ilmu pertanian tidak difungsikan, maka menjadi mubadzir.
    Ketika etika keilmuan tadi rusak, maka ilmu menjadi malapetaka. Akhlaqnya rusak, kelakuannya jelek, nafsunya tidak karuan. Semakin ngerti hukum, semakin mempermainkan hukum; semakin ngerti ekonomi, semakin membuat rakyat menderita.
    Untuk anak-anak baru, semua kegiatan disiplin harus dijalankan, jama’ah, shalat malam, nanti ada rencana dari majlis asatidz untuk shalat sunnah. Ada dzikir, ada istighotsah. Itu bukan hanya untuk hatimu, tapi juga untuk ilmumu. Ilmu akan menjadi mekar dan bermanfaat. Ini tentang etika keilmuan.
    Apa yang saya sebutkan tadi, ilmu yang manfaat, baru berpotensi untuk menjadi ilmu manfaat. Untuk efektifnya potensi itu, kamu harus melakukan amal keshalihan, untuk dirimu dan lingkunganmu. Shalih pribadi atau shalih sosial. Shalish sosial ini namanya mushlih. Mushlih itu shalih dan baik, siap memperbaiki. Tingkatan mushlih lebih tinggi dari shalih. Mushlih itu adalah posisi amal yang sudah environment-nya. Maka kamu mulai akan ada harganya. Seberapa harga kamu, adalah seberapa gunanya kamu kepada orang lain. Kalau kamu berguna untuk dirimu sendiri, hargamu sati orang. Kalau kamu berguna untuk satu kampung, hargamu satu kampung. Kalau kamu bergua untuk satu bangsa, maka hargamu sebesar harga bvangsa. Kalau untuk diri sendiri ndak ada gunanya, berarti nol. Untuk dirinya saja sudah ndak ada gunanya. Ada yang minus, untuk dirinya, dia menzhalimi dirinya, dirusak dengan minuman keras, dsb. Karena untuk dirinya sendiri, dia sudah predator – pengrusak, kalau kotong, ndak ngerusak awake, mangan wae, gelege’en, turu, mangan maneh, akhirnya jadi uler guling, gelimbang-gelimbung gentong nasi, tapi ndak ngerusak orang, tapi ndak berguna. yang cocok didol kilon. Tambah lemu didol tambah larang kilonane. Mulai dia Bermanfaat untuk dirinya, hargamu satu ornag. Bermanfaat untuk keluarga, hargamu satu keluarga. Ketika kamu meninggal, seakan-akan yang amti satu keluarga. Kalau orang orang itu berharga untuk bangsanya, maka seluruh bangsa akan menangis. Waktu khomaeni meninggal, saya di Iran, seluruh bangsa menangis, seakan-akan kehidupan negara ini digantungkan kepada beliau; tapi kalau nang awake dewe gak onok gunane, apalagi merusak, tambah beneran lek mati. Mat codet iku lo mati, jare wong kampung al-hamdulillah, jemuran saya aman. Oleh karenanya, kamu jangan puas jadi ornang pinter, kamu harus puas menjadi orang yang punya harga, harga itu dari amal bukan karena minta dihargai. Dengan kamu melakukan amal, kamu akan berharga dengan sendirinya. Ketika kamu meminta dihargai, maka kamu akan kelihatan sombing dan orang tidak akan beri kau penghargaan. Saya minta disiplin pesantren ini jalan. Yang ma’had aly, ahli baca Qur’an, jangan bosan baca Qur’an. Masa’ umure 25 tahun, wacanane scobby do. Itu terjadi karena over-kompensasi. Jadi, saya ini memang tugasnya angel, gimana anak-anak yang santri bisa mengerti dunia yang sudah begini; bagaimana mahasiswa yang tahu dunia itu, dia bisa mengendalikan dirinya; nanti jika di jakarta, insya allah, mungkin empat bulan lagi, masjidnya akan dibuka. Saya senang kalau kamu bisa iut menyaksikan pembukaan masjid al-hikam 2, saya yang tidak senang, ngongkosinya. Arek sak mene akehe, neng kono ngewehi mangan, iki entek-enteki duik. Ini sangat bagus kalau kamu ke sana, supaya bisa membandingkan antara mahasiswa malang dengan UI. Di sini rumongso pinter; sekolah di sana nggak lulus. Ada 2-3 orang yang ujian di UI, nggak lulus. Berarti masalah ilmu ini, harus kamu prioritaskan. Ada penyakit lagi, orang yang sekolah dan mondok. Yakni mencari status, bukan mencari ilmu. Yang bener, mencari ilmu, status datang dengan sendirinya. Jangan mencari status, mengabaikan ilmunya. Yang kedua ini banyak, buktinya banyak yang bikin skripsi dengan pesen di Dinoyo. Dia ndak pernah bsia pandai. Ini semua peringatan untuk kamu, jadi kamu oleh orang tua kamu disuruh mondok, bukn untuk enak-enakan, tapi untuk menggembleng diri kamu semua; nanti semoga mendapatkan masa depan yang sebaik-baiknya. Anak muda yang mau berpayah-payah, hidupnya tidak akan payah. Anak muda yang menghindari berpayah-payah, dia akan mendapatu hidup yang payah. Karena malas latihan dan belajar, akhirnya bodoh, manja, ketika terjun di hidup yangs esungguhnya, naggung anak dan istri, dia jadi kelabakan ; anak muda yang hidup dengan gemblengan, dengans egala keberanian menghadapi tantangan hgidup, diua akan sukses di kemudian ahri.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Etika Ilmu Rating: 5 Reviewed By: Motivator Indonesia
    Scroll to Top